Nasional

Memecah Belah & Hambat Pembangunan Papua, BMP Minta Polisi Tindak KNPB & ULMWP

Ayonews, Jayapura

Kelompok Barisan Merah Putih (BMP) Kabupaten Jayawijaya, Papua, menolak keberadaan Kelompok Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan United Liberation of Movement West Papua (ULMWP). Kedua organisasi itu dianggap telah memecah belah persatuan dan kesatuan Papua dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ketua BMP Wilayah Pegunungan Tengah Papua, Salmon Walilo meminta polisi menindak kedua kelompok yang dinilai berseberangan dengan ideologi bangsa Indonesia.

088675500_1439459622-20150813-tarian_kolosal-papua
“Mereka ini kan telah nyata-nyata memiliki ideologi lain, dan ingin memisahkan diri dari NKRI, dan mereka sudah meresahkan masyarakat, jadi kami meminta untuk aparat kepolisian menindak tegas kelompok-kelompok ini,” tegas Salmon Walilo di Sekretariat BMP Jalan Trans Kabupaten, Distrik Libarek, Jayawijaya, Kamis (12/5/2016).
Menurutnya, KNPB selalu membuat masalah di atas tanah Papua. Rakyat Papua, lanjut dia, tidak ingin terlibat dalam isu kebohongan dan terjebak dalam teror kelompok yang dinilai menghalangi kemajuan masyarakat Papua.
“Masyarakat menolak adanya kelompok-kelompok liar seperti kelompok KNPB yang selama ini sudah meresahkan masyarakat. Yang kami inginkan adalah ketenangan dan kedamaian, serta pembangunan sampai ke kampung-kampung,” ujarnya.
Ia meminta masyarakat Papua agar tidak terprovokasi dengan isu-isu kemerdekaan Papua yang disampaikan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sebab, sampai saat ini Papua tetap berada utuh dalam NKRI.
“Masyarakat jangan terprovokasi dengan isu-isu yang disampaikan mereka, karena itu menyesatkan, dan kami selaku BMP siap mengawal Papua dalam NKRI,” ucapnya.
Selain menolak KNPB dan ULMWP, mereka juga membakar bendera bintang kejora dan bendera KNPB.
Sikap penolakan terhadap keberadaan kelompok yang mendeklarasikan ingin memisahkan dari NKRI ini dilakukan oleh 5 Ondoafi atau Tokoh Adat yang ada di Kabupaten Jayapura, yaitu Boaz Assa Enock, Ondoafi Kampung Sosiri; Sefnat Kreuta, Ondoafi Kampung Doyo Baru; Melias Monim, Ondoafi Kampung Putali; Oktovianus Pangkali, Ondofolo Yahim dan Fredik Stenly Deda, Ondofolo Hedam Ayapo di Para-para adat suku Felle, Sentani Kabupaten Jayapura.
“Satu hal yang kita harus tahu bahwa kelompok KNPB yang selama ini bergulir, kami tegaskan kami menolak akan kelompok tersebut karena tidak terdaftar dalam suatu organisasi yang ditetapkan dalam pemerintah. Dan lagi mereka seakan buat aturan sendiri tidak hormati adat kami, maka kami meminta kepada Pemerintah Provinsi dan Kabupaten beserta pihak keamanan jangan tinggal diam dan harus membuka mata serta melakukan langkah- langkah khusus untuk dalam menyelesaikan permasalahan ini ,” kata Boaz Assa Anock selalu Ondoafi Kampung Sosiri.
Pihaknya meminta kepada pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk mengembalikan kelompok KNPB ke daerahnya masing-masing. Pasalnya, keberadaan KNBP dianggap menghambat pembangunan di Kabupaten Jayapura.
“Kami mewakili masyarakat adat Kabupaten Jayapura menginginkan adanya kedamaian serta dapat berjalannya dengan baik pembangunan di Kabupaten Jayapura sehingga dapat mensejahterakan masyarakat,” ujarnya.
Boaz menegaskan apabila pemerintah Provinsi dan Kabupaten tidak mengambil sikap dalam pernyataan sikap yang telah diamini Ondoafi se-Kabupaten Jayapura ini, maka pihaknya bersama masyarakat akan mengambil sikap sendiri.
“Kehadiran mereka sangat meresahkan, jadi kami minta pemerintah Provinsi dan Daerah melihat ini, dan kami minta mereka dikembalikan ke daerahnya. Dan jika tidak, maka kami yang akan bertindak sendiri,” tegasnya.(***)

Most Popular

To Top