Nasional

Propaganda Fitnah ini Masih Terus Diumbar, Jokowi Anak PKI Kembali Dihembuskan Para Pendengki

IMG-20160509-WA0000

Ayonews, Jakarta

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali diserang fitnah Komunis melalui media sosial. Fitnah yang disebar pun sama persis dengan kampanye hitam buat menyerang pasangan Jokowi-JK saat menjelang Pilpres 2014 lalu.

foto hael pki

Entah ada atau tidak ada kaitannya dengan HUT PKI hari ini Senin (9/5/2016), momen itu kembali dimanfaatkan para pembenci Jokowi untuk kembali menyebar tudingan tanpa dasar alias fitnah.

New Picture (1)New Picture (2)New Picture (4)

Salah satunya propaganda opini dengan akun Facebook Bambang Tri Mulyono. Dengan mengambil angle “Jokowi: Anak Antek PKI / Anak Pengawal Tokoh PKI DN Aidit” , Bambang Tri memasang foto-foto pengawal DN Aidit yang disebut mirip dengan bapaknya Jokowi. Materi gambar ini pun pernah dipakai kelompok lawan Jokowi saat Pilpres.

Secara intens gambar itu terus dipakai para hater Jokowi menggunakan opini utama bahwa Jokowi Anak PKI,  Gambar dan opini ini terus dilempar tahun 2015 hingga sekarang. Propaganda opini itu pun sempat melonjak di rentang Juli – Oktober 2015.

Facebook Bambang Tri Mulyono secara agresif terus menggunakan akunnya menyebarkan propaganda Jokowi Anak PKI menggunakan berbagi teori konspirasi yang dirumuskannya sendiri, antara lain yaitu

  1. Teori analisa kemiripan wajah dan badan antara wajah Bpk Widjiatno (diduga Bpk Jokowi) dengan wajah Presiden Jokowi sendiri.
  2. Teori bahwa Jokowi telah mengubah nama ayah kandungnya dari aslinya yaitu Widjiatno menjadi Widjiatno Notomihardjo. Menurutnya  hal ini terlihat dari data Jokowi pada surat formulir pendaftaran Capres di KPU.

IMG-20160509-WA0002

Ada dugaan, munculnya kembali propaganda opini Jokowi Anak PKI, di awal-awal bulan Mei 2016 ini berkaitan dengan sejumlah isu yang saat ini sedang terjadi.  Di antaranya, sedang ramai diperbincangkan di medsos terkait bangkitnya kembali PKI. Indikasinya, banyak generasi muda yang menggunakan emblem lambang palu arit, baik sebagai kaos, pin, stiker dan lain-lain.

Kemudian, beberapa waktu lalu ada kegiatan-kegiatan yang dinilai beberapa pihak sebagai kegiatan kelompok kiri. Kegiatan yang berpotensi membangkitkan kembali PKI di Indonesia sempat terjadi. Misalnya Simposium PKI oleh pemerintah,  perintah Jokowi mencari lokasi penguburan massal korban G30S/PKI, sejumlah acara budaya yang terkesan berbau kiri.

Menanggapi propaganda ini, pengamat politik Ray Rangkuti menilai propaganda melalui media sosial tentang Joko Widodo (Jokowi) dikaitkan dengan komunisme sudah sangat berlebihan. Apalagi, opini yang sarat dengan fitnah itu dilakukan tanpa riset ilmiah.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia itu juga mengaku heran karena fitnah beruntun menyasar ke Jokowi. Bahkan, fitnah yang jelas-jelas salah itu terus diumbar di ruang publik.

Tak hanya dituding kafir, agen asing, munafik, kini Jokowi disebut sebagai agen komunis karena ada tuduhan bapaknya ajudan atau pengawal DN Aidit. “Para  pembuat fitnah ke Jokowi itu jelas mengotori demokrasi. Mereka bukan saja tidak malu, tak belajar dari kegagalan, bahkan sebenarnya mengotori demokrasi. Uniknya, mereka memakai demokrasi untuk menghancurkannya dari dalam,” papar Ray.

Yang sangat disayangkan lagi, pihak yang mengembuskan fitnah justru tak pernah meminta maaf, tapi malah memunculkan fitnah baru. Ray pun mengaku tak habis pikir dengan pihak yang memunculkan fitnah di Pilpres.

“Apa yang ada di hati dan akal mereka sebenarnya? Tidakkah cukup bagi para pemfitnah itu berhenti pada satu kesimpulan bahwa tidak mungkin dalam diri yang satu bergabung sekaligus semua keburukan. Ya, kafir, ya munafik, ya agen asing, dan sekaligus PKI,” kata Ray.(***)

 

Most Popular

To Top