Korupsi

KPK Telusuri Pecahan Dolar di Rumah Sekretaria MA Terkait Suap Sekretaris PN Jakpus

148195_small

Ayonews, Jakarta 

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menelusuri asal muasal duit atau follow the money uang pecahan dolar yang ditemukan di rumah Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi.

“Semuanya akan kita kembangkan ke sana kan tapi uangnya apakah ada hubungannya antara uang yang diterima Edy itu dengan uang yang diterima di rumahnya Pak Nurhadi terus kita kembangkan,” ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata.

“Bisa saja kan tidak ada hubungannya misalnya masing-masing main sendiri di bawah dan di atas, kita tidak ngerti itu, itulah yang akan kita dalami,” ungkap Alex soal hubungan antara Nurhadi dengan Edy masih terus dicari oleh penyidik KPK.

Nurhadi sendiri masih dicegah KPK dan masih berstatus sebagai saksi. Pencegahan ke luar negeri dilakukan berkaitan dengan kasus dugaan suap yang membelit panitera sekretaris Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) Edy Nasution.

Edy ditangkap setelah menerima duit dari pihak berperkara yang disampaikan oleh Doddy Aryanto Supeno. Selepas itu, KPK turut menggeledah sejumlah lokasi termasuk rumah dan kantor Nurhadi.

MenurutAlex, KPK akan mengembangkan soal uang itu apakah ada hubungannya antara uang yang diterima Edy itu dengan uang yang diterima di rumahnya Pak Nurhadi terus kita kembangkan.

“Bisa saja kan tidak ada hubungannya misalnya masing-masing main sendiri di bawah dan di atas, kita tidak ngerti itu, itulah yang akan kita dalami,” ucap Alex menegaskan.

Dalam kasus ini, dua orang tersangka pun telah ditetapkan oleh KPK yaitu panitera sekretaris PN Jakpus Edy Nasution serta seorang pengusaha sekaligus perantara bernama Doddy Aryanto Supeno. Keduanya ditangkap seusai melakukan transaksi sebesar Rp 50 juta yang merupakan sebagian kecil dari duit yang dijanjikan.

Edy pun disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001, juncto Pasal 64 KUHP, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1. 

Sementara itu, Doddy disangka melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001, juncto Pasal 64 KUHP, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1. (***)

Most Popular

To Top