Hukum & Kriminal

Menkumham: Napi Gantung Diri Karena Stres Mau Bebas Kepergok Positif Narkoba

images-19

Ayonews, Jakarta

Meski hasil autopsi jenazah Undang kosim (54) alias Uwa bin Muhadi, narapidana yang gantung diri, belum keluar, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly pastikan narapidana yang meninggal di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banceuy Bandung, Jawa Barat karena gantung diri.


“Barusan telepon dengan Kapolres minta info lebih valid penyebab kematian. Hasil visum memang belum keluar tapi khusus konfirmasi bunuh diri, Kapolres mengatakan memang bunuh diri,” ucap Yasonna di gedung Kemenkum HAM, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (24/4).

Narapidana tersebut, lanjut Yasonna, gantung diri dengan menggunakan tali yang berada di celananya. Dan yang membuktikan jika napi tersebut bunuh diri adalah lidahnya yang menjulur serta keluar cairan dari kemaluan narapidana tersebut.

“Kalau bunuh diri itu, kalau sudah mati digantung beda dengan kalau hidup digantung, beda,” terang Yasonna.

Sebelum gantung diri,  Undang diketahui membawa sebuah bungkusan berwarna hitam dari orang luar. Ketika petugas lapas akan memeriksa bungkusan tersebut, Undang pergi ke kamar mandi.

Ketika diperiksa, petugas tak menemukan barang bukti yang dicurigai tersebut. Akhirnya petugas memutuskan untuk melakukan tes urine kepada seluruh penghuni lapas. Dan akhirnya ditemukan salah satu narapidana yang positif menggunakan narkoba, yakni Undang.

“Kalapas panik, ini orang ditarik, diperiksa. Pemeriksaan mereka dengan pemaksaan supaya mengaku, bisa saja terjadi hal-hal (demikian),” tambahnya.

Ia menduga bahwa Undang mengalami stres akibat adanya tekanan dari petugas lapas untuk mengaku yang akhirnya melakukan bunuh diri. Karena, Undang rencanaya akan dibebaskan secara bersyarat dua bulan lagi.

“Mungkin almarhum stres kalau ketahuan melakukan pelanggaran, bebas bersyaratnya akan dicabut. Dan proses hukum baru lagi, mungkin saja dia stres dan panik,” tutup Yasonna.

Sebelumnya, sejumlah narapidana yang menghuni Lapas Banceuy di Jalan Soekarno-Hatta terlibat kerusuhan. Tak hanya melakukan pengerusakan, mereka juga membakar kantor lapas hingga habis dilalap api.

Kerusuhan tersebut berlangsung sejak Sabtu (23/4) pagi. Polisi segera menerjunkan anggota Brigade Mobile (Brimob) untuk meredakan situasi.

Usai mendinginkan kerusuhan, polisi langsung menggeledah setiap sel yang dihuni para napi. Petugas menemukan puluhan telepon genggam, korek api gas, dan berbagai jenis senjata tajam. 

Benda-benda terlarang tersebut diketahui sudah dimodifikasi menjadi senjata tajam, menjadi gunting, palu, pisau cuter dan lainnya. Polisi menduga, pembakaran lapas tersebut diduga disebabkan dari korek gas.

“Mereka sama-sama menuju kantor dan membakar,” kata Kapolda Jawa Barat Irjen Jodie Rooseto.(***)

Most Popular

To Top