Entertainment

Sejarah Taman Ismail Marzuki – Sebuah Perjuangan Dunia Seni: Dari Kebun Binatang ke Pusat Kesenian

Ayonews, Jakarta

Taman Ismail Marzuki (2008) | sumber: google

Taman Ismail Marzuki (2008) | sumber: google

Jika ada orang yang bertanya di manakah pusat kesenian terbesar di Indonesia, tentu jawabnya adalah Taman Ismail Marzuki. Taman yang berfungsi sebagai wadah berkesenian bagi para seniman ini namanya diambil dari nama seorang komposer musik legendaris asal Jakarta bernama Ismail Marzuki. Nama beliau dipakai sebagai bentuk apresiasi atas jasa-jasa beliau sebagai seorang seniman asal Jakarta.

Monumen Ismail Marzuki di TIM | sumber: google

Monumen Ismail Marzuki di TIM | sumber: google

Ali Sadikin, Gubernur ke-9 DKI Jakarta (1966-1977) | sumber: wikipedia

Ali Sadikin, Gubernur ke-9 DKI Jakarta (1966-1977) | sumber: wikipedia

Taman Ismail Marzuki atau yang akrab disebut-sebut TIM oleh masyarakat, belakangan ini sudah mulai dilupakan  mengapa taman yang bersifat pusat kesenian ini harus ada dan bagaimana akhirnya gagasan untuk membentuk pusat kesenian ini terwujud. Maka, mengulik kembali sejarah berdirinya Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki menjadi penting untuk mengingatkan masyarakat, khususnya para seniman, akan tujuan pusat kesenian ini didirikan sehingga ke depannya kesenian di Ibukota bisa terus berproses dan berkembang pesat.

Berdirinya Taman Ismail Marzuki bisa terwujud berkat inisiatif dan bantuan seorang gubernur Jakarta yang memiliki kecintaan dan apresiasi tinggi bagi kesenian, beliau adalah Ali Sadikin. Semasa pemerintahannya sebagai gubernur Jakarta, Ali Sadikin  yang akrab disapa Bang Ali banyak membuat perubahan dan pembangunan yang membutuhkan keberanian dan juga keikhlasan untuk mengeluarkan modal tinggi dan mengerahkan banyak tenaga. Salah satu bukti signifikan adalah bagaimana beliau mendirikan Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki bersama para seniman.

Gagasan untuk mendirikan TIM ini salah satunya didorong oleh kepekaan Bang Ali saat melihat Balai Budaya yang pada saat itu menjadi tempat berkumpulnya para seniman, sudah terlalu penuh, tidak ada cukup ruang untuk aktivitas-aktivitas kesenian para seniman. Kemudian dengan segala keberanian, Ali Sadikin memilih lahan rekreasi umum Kebun Binatang Cikini (sebelumnya Taman Raden Saleh) untuk menjadi lokasi pusat kesenian yang nantinya akan menjadi ruang pertaruhan kreativitas para seniman.

Kebun binatang yang berlokasi di Jalan Cikini Raya no.73 itu akhirnya dipindahkan ke Ragunan, dan tanah bekas kebun binatang itulah yang akhirnya menjadi tempat berdirinya Taman Ismail Marzuki. Setelah dibangun, Ali Sadikin meresmikan Taman Ismail Marzuki sebagai Pusat Kesenian Jakarta pada tanggal 10 November 1968. TIM dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 9 hektare dan pada awal didirikannya terdapat bangunan-bangunan dan area-area terbuka yang berfungsi sebagai ruang eksebisi karya para seniman seni rupa, seni sastra, seni tari, seni teater, seni musik, seni apresiasi budaya, bahkan seni film.

Tim Tempo Doeloe (Sumber:google)

TIM Tempo Doeloe (Sumber:google)

 

 

Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, LPKJ. (sekarang IKJ) | sumber: Jakarta.go.id

Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, LPKJ. (sekarang IKJ) | sumber: Jakarta.go.id

Selain ruang untuk berkarya dan berlangsungnya proses kreatif, kemudian didirikan pula Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang dibangun didalam kompleks TIM dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 25 Juni 1976. LPKJ didirikan dengan tujuan untuk mewujudkan sarana pendidikan seni bagi masyarakat sekitar dengan sistem sanggar atau padepokan. Kemudian pada tahun 1981 beralih nama menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan sistem pendidikan formal sesuai usulan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Hingga saat ini IKJ masih menjadi bagian dari Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Dalam upaya mendirikan TIM sebagai ruang kreativitas seniman di Jakarta, Ali Sadikin juga mengukuhkan sebuah lembaga otonom bernama Dewan Kesenian Jakarta yang bertugas sebagai mitra kerja Gubernur Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta dalam merumuskan kebijakan yang bertujuan untuk mendukung dan mengembangkan kegiatan kesenian para seniman di Ibukota, termasuk proses kreatif seniman yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki. Untuk mengorganisir kegiatan dengan lebih baik lagi, ditunjuk pula seorang Direktur untuk Taman Ismail Marzuki dengan syarat bahwa siapa pun yang menjadi direktur TIM harus paham betul apa itu seni dan memiliki apresiasi tinggi terhadap kesenian. Karena dengan begitu tujuan TIM sebagai pusat kesenian tempat para seniman melakukan aktivitas berkesenian dapat terwujud dan berlangsung secara terus-menerus.

Direction sign Kompleks Taman Ismail Marzuki | sumber: musicalprom.com

Direction sign Kompleks Taman Ismail Marzuki | sumber: musicalprom.com

Sejarah perjalanan berdirinya Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki menunjukkan kepada kita betapa pentingnya seni dan keberadaan para senimannya sehingga perjuangan besar-besaran tidak menjadi soal. TIM sebagai pusat kesenian bukanlah sekedar tempat nongkrong-nongkrong belaka, tapi merupakan wadah bagi para seniman yang eksistensinya sejak awal bertujuan untuk mendukung kegiatan berkesenian, menampung karya-karya seniman, dan tempat bertukarnya ide-ide para seniman yang akan berujung pada kreativitas tanpa batas.

Sejarah TIM juga menunjukan kepada kita bagaimana bahkan seorang Ali Sadikin sadar betul bahwa seni perlu dikembangkan karena seni itu sendiri adalah kebutuhan dasar manusia selain sandang, papan, dan pangan. Hingga hari ini seni telah menjadi suatu kebutuhan yang mulai dilupakan masyarakat. Padahal sesungguhnya seni adalah makanan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang abstrak demi keseimbangan jiwa. Seni membuat manusia peka. Seni membuat manusia berpikir sekaligus merasakan sehingga manusia terhindar dari sifat apatis, egois, dan sombong.

Sekilas sejarah Taman Ismail Marzuki telah menunjukan kegigihan perjuangan seni yang lampau, apa kabar perjuangan hari ini? (NA)

Most Popular

To Top