Korupsi

Beredar Broadcast Message Anggota DPRD DKI yang Kecipratan Duit Suap Raperda Reklamasi

71970_01143922032016_dprd1

Ayonews, Jakarta

Setelah Mohamad Sanusi ditangkap, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga masih banyak anggota DPRD DKI lain kecipratan aliran dana suap Raperda terkait Reklamasi.

Apalagi, beberapa hari kemudian, muncul sebuah broadcast message tanpa sumber jelas yang memuat daftar secara terperinci tentang nama-nama anggota Dewan yang menerima suap.

 

Suap yang dimaksud bukan berbentuk uang, melainkan dalam bentuk jalan-jalan ke luar negeri seperti Amerika, suap dalam bentuk umrah dan kendaraan.

Sekretaris Dewan DKI Jakarta Muhammad Yuliadi membenarkan kalau Ketua DPRD DKI Prasetio Edi Marsudi melakukan perjalanan ke Amerika bersama keluarganya. Ini diketahui dari surat tembusan ke Kedutaan Amerika Serikat soal permintaan visa.

 

“Waktu itu ada Pak Prasetio dan keluarganya ke USA. Kami memberikan surat ke kedutaan bahwa yang bersangkutan ini Ketua DPRD. Itu saja, hanya untuk mempermudah mendapatkan visa,” ujar Yuliadi di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih (6/4/2016).

Yuliadi mengatakan, perjalanan ini merupakan perjalanan pribadi dan bukan perjalanan dinas. Selain Prasetio, kata Yuliadi, beberapa anggota Dewan lain yang sempat pergi ke luar negeri adalah Wakil Ketua DPRD DKI Triwisaksana dan Ketua Fraksi PKS Selamat Nurdin. Keduanya melaksanakan umrah sekitar akhir tahun. “Ada Pak Selamat dan Pak Sani (umrah),” ujar Yuliadi.

Beberapa nama yang muncul dalam broadcast tersebut sudah terkonfirmasi. Ketua Fraksi Partai Nasdem Bestari Barus yang disebut menerima mobil Toyota Alphard mengaku kalau, mobil tersebut memang ada. Namun, mobil tersebut bukan pemberian gratis, melainkan akan dia beli.

Bestari mengatakan, Sanusi memberinya kesempatan untuk test drive terlebih dahulu. Mobil itu pun dia bawa untuk dicoba. Karena merasa cocok, Bestari berminat untuk membeli mobil tersebut. Akhirnya, dia meminjam uang dari Bank DKI sebesar Rp 450 juta dan menjual mobil Toyota Fortuner miliknya seharga Rp 270 juta.

“Saya itu mau bayar dengan pinjam uang ke Bank DKI dan saya juga jual mobil Fortuner saya. Setelah itu, mana dong BPKP sama STNK? Enggak keluar-keluar sampai hari ini,” ujar Bestari.

Anggota DPRD DKI dari Fraksi Partai Gerindra, Prabowo Soenirman, juga membantah telah menerima Alphard. Menurut dia, kabar tersebut salah karena dia sendiri bukanlah anggota Balegda. Sejak awal, dia juga sudah menolak Raperda tersebut.

“Kalau saya terima suap, saya siap ditangkap, siap dimiskinkan, saya siap dipenjara,” ujar Prabowo.

Selain itu, Wakil Ketua DPRD DKI Triwisaksana juga menjadi salah satu yang disebut menerima suap dalam bentuk umrah dan Alphard. Dia pun membantah keduanya.

 

“Saya pernah umrah, tetapi tidak enggak akhir tahun dan enggak ada kaitannya dengan dana itu (dari raperda),” ujar Triwisaksana.

Pria yang akrab disapa Sani ini mengatakan, dia berangkat umrah menggunakan uang tabungannya. Dia juga merasa tidak pernah menerima mobil Alphard dari siapa pun.

Beberapa anggota Dewan belum bisa dimintai keterangan mengenai itu, misalnya Ketua DPRD DKI Prasetio Edi Marsudi yang sejak kemarin tidak ada di kantornya.

 

Terlepas dari itu, Sani mengatakan, seharusnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibiarkan bekerja tanpa ada rumor-rumor tertentu.

 

“Saya minta semua pihak untuk mengikuti proses hukum yang sedang berjalan di KPK dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak mendasar,” ujar Sani.(***)

Most Popular

To Top