Ibukota

Penjaga Masjid Bisa Umroh Gratis ke Tanah Suci, Bukti Ahok Memandang Marbot Sebagai Pekerjaan Mulia

marbot

Ayonews, Jakarta
Pergi ke tanah suci untuk berhaji, minimal umroh hanyalah mimpi bagi seorang Suweha, seorang marbot di Masjid Babutthoyib di kawasan Papanggo, Jakarta Utara. Dengan penghasilan di bawah 1 juta rupiah, boro-boro buat pergi ke tanah suci, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja jauh dari cukup.
Tapi jika Tuhan berkehendak, tak ada yang bisa menghalangi. Takdir memang bisa mengubah segalanya. Dengan penghasilan pas-pasan, pria 65 tahun ini terus berdoa selama hidupnya agar bisa beribadah di depan Kabah.
Doanya pun terkabul. Di bulan Desember 2015 pria kelahiran Kebumen itu terpilih dalam rombongan 30 marbot se-Jakarta yang dipilih Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama dan bekerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) untuk diberangkatkan beribadah umroh.
Kamis (18/12/2015) Jalan Papanggo II RT 07/03, Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara terbang ke Tanah Suci. Yang membuat haru Suweha, keberangkatannya waktu itu dilepas langsung oleh Ahok.

“Waktu itu terasa mimpi indah bisa ketemu pak Ahok dan bisa pergi umroh gratis,” ujar Suweha.

Suweha mengatakan, dengan upah sebesar Rp 800.000 per bulan sebagai marbot, sangatlah sulit untuk bisa pergi umroh. Terlebih upah sebesar itu, baru ia dapatkan sejak beberapa tahun terakhir.

“Saya jadi marbot sejak tahun 1971. Selama puluhan tahun jadi marbot, saya baru menerima gaji sejak tiga tahun lalu. Besaran upahnya dulu Rp 300.000 dan terus naik sampai sekarang Rp 800.000 per bulan,” jelas Suweha.

Untuk kebutuhan makan, Suweha masih dibantu oleh ketiga anaknya yang telah bekerja. Masing-masing anaknya, memberi uang Rp 1 juta setiap bulan. Selain untuk keperluan makan bersama istri, Musiam (45), uang pemberian anaknya juga dialihkan untuk membangun dua petak kontrakan rumah.

Dia pun berharap, agar pemerintah bisa memberangkatkan marbot lainnya untuk umrah ke Mekah. Sebab, masih ada ribuan marbot di DKI Jakarta yang ingin bisa beribadah di sana.

“Kami senang dengan adanya program ini, berarti marbot juga dipandang sebagai pekerjaan yang mulia karena pemerintah memberi perhatian lebih atas kinerja kami,” ucap Suweha.(***)

Most Popular

To Top