Hukum

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Minta Kapolda Mencontoh Kapolres Metro Jaksel

menteri pemberdayaan

Ayonews, Jakarta

Jajaran Polres Jakarta Selatan dalam mengungkap kasus eksploitasi anak yang terjadi di sekitar Blok M, Jakarta Selatan mendapat apresiasi dari Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise.

Menurut Yohana,  tindakan Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Wahyu Hadiningrat dalam membongkar kasus eksploitasi anak dapat menjadi contoh untuk polisi lainnya.

“Saya sangat apresiasi kerja keras polisi yang sudah ungkap kasus ini. Ini kali kedua saya datang ke sini. Saya apresiasi tinggi Pak Kapolres, karena saya pikir anak harus jadi prioritas. Anak adalah aset negara,” kata  Yohana Yembise di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Minggu (27/3/2016).

Terhitunh sudah dua kali Menteri Yohana datang ke Polres Metro Jakarta Selatan. Dalam kunjungan pertama, Yohana saat Polres Metro Jakarta Selatan mengungkap kasus pencabulan anak tahun 2015 lalu.

Dari dua kunjungan ini, Yohana menilai Wahyu sangat berkomitmen dalam mengusut kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan.

“Kapolres ini bisa saya jadikan model buat Kapolres, Kapolsek yang lain. Bahkan Kapolda juga harus belajar di sini. Karena banyak kasus di sini diungkap,” tutur dia.

Dari kunjungan Yohana ke kepolisian di daerah lain, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan jarang diperhatikan. Sehingga penanganannya tak serius dilakukan oleh polisi.

Nantinya, Yohana juga berkomitmen akan memberikan pelatihan bagi penegak hukum seperti polisi, jaksa, hakim serta pengacara untuk bisa menerapkan undang-undang perlindungan anak secara tepat.

Ada empat pelaku pengeksploitasi anak yang ditangkap oleh Satuan Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan pada pekan lalu. Empat orang tersebut adalah, SM (18), EH (17), I alias Mama Wiwit (35) dan NH (43). Dari empat pelaku pengeksploitasi anak, satu di antaranya mengaku sebagai orangtua saat ditangkap polisi.

Korban eksploitasi anak tersebut salah satunya adalah Bon-Bon, bayi berusia 6 bulan. Para pelaku akan dijerat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak atau Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang. Ancaman hukumannya lebih dari 10 tahun penjara.(***)

Most Popular

To Top