Internasional

Dokumen ISIS yang Bocor ke Publik Diragukan Keasliannya

Siapa nama pertama dan terakhir Anda? Apa pendidikan dan pekerjaan Anda? Rekomendasi apa yang Anda punya? Apakah Anda bersedia untuk menjadi seorang penyerang bunuh diri atau Anda lebih memilih menjadi petempur?

Pertanyaan tersebut berada di antara pertanyaan yang konon diajukan kepada calon militan yang ingin bergabung dengan militan Islamic State (ISIS).

“Saya percaya data dalam dokumen-dokumen yang digambarkan oleh media Eropa mungkin akan direkrut ISIS,” kata Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de Maiziere, seperti dikutip CNN.

Dokumen yang diperoleh media Jerman dan Inggris itu merupakan semacam formulir yang memuat sedikitnya 22.000 identitas pendukung IS dari 50 negara. Selain identitas, formulir itu mencakup alamat dan nomor telepon mereka.

Berkas-berkas berisi ribuan identitas pendukung ISIS telah dimunculkan di internet oleh laman berita asal Qatar, Zaman Al-Wasl. Salah satu dokumen berbahasa Arab merujuk kepada seorang warga Jerman yang “ingin menjadi pengebom bunuh diri”.

Misalnya, seseorang mengajukan permohonan untuk menjadi seorang penyerang bom bunuh diri, maka ia akan diberangkatkan secepatnya.

Sumber dokumen

Sky News, yang memperoleh dokumen-dokumen tersebut, mengaku mendapatkannya dari seorang pria bernama Abu Hamed, seorang anggota milisi ISIS yang kecewa dengan kepemimpinan ISIS dan mencuri dokumen-dokumen ISIS dari kepala keamanan internal ISIS menggunakan flash disc.

Secara terpisah, Stefan Kornelius yang menjabat redaktur luar negeri surat kabar Jerman Sueddeutsche Zeitung, mengatakan kepada BBC bahwa dia memperoleh berkas-berkas ISIS dari “sumber terpercaya”.

Sementara beberapa tanggapan terhadap pertanyaan dalam dokumen tersebut yang bocor membuatnya lebih jelas dokumen ini bukan sembarang aplikasi atau database.

Janggal

Beberapa analis mengatakan ISIS dikenal sebagai kelompok yang bersifat birokratik sehingga keberadaan dokumen-dokumen itu tidak mengejutkan.

Namun, ada pula sejumlah analis yang mempertanyakan keaslian berkas-berkas itu lantaran ada beberapa ketidakkonsistenan bahasa dan kejanggalan lain, seperti nama Islamic State in Iraq and the Levant ditulis dalam dua cara berbeda serta kuesioner mengenai lokasi dan waktu seorang anggota dibunuh, bukan menggunakan istilah mati syahid.(***)

Most Popular

To Top