Ibukota

Kasus Polisi Tembak Istri, IPW Desak Tes Kejiwaan Anggota Polri Diperketat

images (68)Ayonews, Jakarta

Kasus Brigadir Aris Candra Kuswanto yang menembak istrinya hingga tewas Sabtu (12/3) kemarin  jadi sorotan luas. Dugaan sementara, Aris nekat menembak istrinya lantaran dipicu masalah keluarga.

Kasus lebih tragis juga terjadi di Melawi Kalimantan Barat, Februari lalu. Seorang anggota Polres Melawi, Brigadir Petrus Bakus nekat membunuh dua anaknya yang masih kecil dengan cara memutilasinya. Petrus disebut punya kelainan jiwa sejak masih berusia empat tahun.

Indonesian Police Watch (IPW) menilai, pola rekrutmen pada institusi kepolisian masih perlu diperbaiki. Terlebih, marak terjadi kasus oknum anggota kepolisian yang menembak atau membunuh orang-orang terdekatnya.

Ketua Presidium IPW Neta S Pane menyatakan. tes kejiwaan (psikotes) dalam rekrutmen anggota mesti diperketat.

“Psikotes jangan disamakan dengan pegawai kantoran,” kata Neta dalam ketetangan persnya kepada wartawan di Jakarta, Senin (14/3).

Menurut Neta, beban kerja polisi jauh lebih berat dibanding pegawai kantoran biasa. Selain diperketat, Neta bilang psikotes anggota Polri juga mesti dilakukan berkala.

“Tak bisa hanya sekali. Harus diawasi terus. Kalau tak mengetahui perkembangan psikologisnya akan terus menyusahkan,” ujarnya.

Ia berpendapat, mayoritas kasus penembakan ataupun pembunuhan terhadap orang terdekat dilakukan oleh polisi dengan pangkat rendah, seperti Brigadir. Anggota berpangkat Brigadir menurut Neta biasanya hasil rekrutmen dari Sekolah Polisi Negara (SPN). Neta bilang sangat jarang pelaku berasal dari lulusan Akademi Kepolisian (Akpol)

“Karena kalau Akpol, psikotesnya benar-benar ketat, profesional, sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. Tapi SPN masih kurang,” tambahnya. (***)

Most Popular

To Top