Ibukota

Operasi Simpatik Polri Ketinggalan Zaman

mobil-curian-yang-disita-polisi-ilustrasi-_110818084905-437

Ayonews, Jakarta
Operasi Simpatik yang digelar Polri mulai 1-21 Maret dinilai tidak efektif meningkatkan kesadaran pengendara kendaraan bermotor serta mengurangi angka pelanggaran lalu lintas.

Pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar mengatakam, razia di jalan raya untuk membangun kesadaran pengendara agar tertib berlalu lintas merupakan cara konvensional dan sudah bukan zamannya lagi.

“Membangun kesadaran itu bukannya dengan menjalankan razia atau operasi khusus. Itu sudah cara-cara dulu. Tapi harus diberi tahu. Masyarakat itu harus diberi tahu secara continue (berlanjut) sehingga terba­ngun kesadaran,” kata Bambang, Senin (7/3).

Dosen Imu Kepolisian Universitas Indonesia itu menuturkan, Operasi Simpatik yang digelar polisi justru terkesan menakutkan pengguna jalan karena dicegat. Arus lalu lintas pun macet dan mengganggu pengguna jalan lainnya.

Apalagi kalau ada petugas yang terkesan mencari-cari kesalahan atau petugas dikejar target tilang. Sekali lagi, membangun kedisiplinan bukan cara mengejar target tilang, tapi harus melalui pendekataan di kelompok masyarakat.

Pengamat kebijakan publik, Henry Kalilola mengatakan, idealnya, operasi apa pun yang dilaksanakan Polri bisa berdampak pada perilaku masyarakat dalam berlalu lintas. Anehnya, masyarakat di Jakarta justru makin tidak tertib.

”Melawan arus, menyerobot lampu merah, tidak pakai helm standar, mengendara tanpa SIM, makin banyak,” cetus Henry. (***)

Most Popular

To Top