Entertainment

Pementasan Luar Biasa ‘SEMAR GUGAT’ oleh Teater Koma

Semar Gugat - Teater Koma 2016 | Photo by Fajar Triwahyudi (IG @thejapra)

Ayonews, Jakarta

Tanggal 3 Maret 2016 lalu merupakan hari pertama pementasan lakon Semar Gugat produksi ke 143 Teater Koma yang didukung oleh Djarum Apresiasi Budaya di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Pementasan Semar Gugat  merupakan buah daripada sebuah naskah legendaris karya sang sutradara N. Riantiarno, yang memenangkan South East Asia Write Award pada tahun 1998 dari pemeritah Thailand pada zaman itu. Sebelumnya Semar Gugat sudah pernah dipentaskan pertama kali pada tahun 1995 di Jakarta, dan setelah 20 tahun berlalu baru dipentaskan lagi di tahun 2016 ini. Walaupun produksi Teater Koma kali ini merupakan suatu pengulangan, tentunya ada regenerasi pemain dan beberapa perubahan atau penambahan detil untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan hasilnya luar biasa bagus dan menarik.

Daisy Lantang sebagai Arjuna dalam lakon Semar Gugat 2016 | photo by Fajar Triwahyudi

Daisy Lantang sebagai Arjuna dalam lakon Semar Gugat 2016 | photo by n/a

Cerita dalam lakon ini bermula dari keinginan Srikandi (Rangga Riantiarno) yang ingin menguji cinta Arjuna (Daisy Lantang) kepadanya dengan cara meminta sesuatu yang sulit sebelum upacara nikah dimulai. Akan tetapi semuanya menjadi kacau balau ketika Betari Permoni (Cornelia Agatha) sang Ratu Setan, dibantu asistennya Kalika (Tuti Hartati Dwi) melihat kesempatan untuk mengacak-acak kawasan Amarta dengan segala rencana mereka, hingga Semar (Budi Ros) menjadi korban penghinaan besar-besaran. Karena merasa terhina dan kecewa atas nasib sekaligus rupanya yang jelek, Semar ditemani salah satu anaknya, Bagong (Dorias Pribadi), pergi ke kahyangan untuk menggugat pemerintahan dewa-dewa yang menurutnya sangat mengecewakan, sekaligus meminta perbaikan nasib dan mengembalikan rupanya yang bagus seperti dulu ketika Semar masih tinggal di kahyangan.

Bagong (Dorias Pribadi) dan Semar 'Ganteng' (Budi Ros) | photo by Fajar Triwahyudi

Bagong (Dorias Pribadi) dan Semar ‘Ganteng’ (Budi Ros) | photo by Fajar Triwahyudi

Lakon Semar Gugat 2016 ini memiliki keistimewaan tersendiri yang membuatnya menjadi sangat luar biasa. Keindahan set dan properti hingga musik dan berbagai koreografi ikut menjadi kesatuan dengan adegan-adegan yang sedang terjadi di atas panggung.

Koreografi yang ditata dan dilatih oleh Sentot Sudiharto bersama Joko SS, merupakan komposisi yang terlihat simple namun begitu anggun dan indah karena adanya semacam rasa yang menjadi kesatuan dengan permainan. Musik dan nyanyian  yang diciptakan oleh Idrus Madani pada produksi pertama Semar Gugat, berhasil diaransemen ulang oleh Fero A. Stefanus dengan sangat bagus tanpa menghilangkan elemen-elemen yang sudah menjadi kesatuan dengan lakon ini. Penataan cahaya yang begitu magis oleh Taufan S. juga menjadi pendukung suasana yang sangat cocok.

Selain itu keistimewaan lainnya adalah bagaimana mulusnya transisi pergantian set dan properti dalam setiap adegan oleh kru yang sebagian besar sebenarnya juga bermain dalam lakon tersebut. Padahal waktu latihan penyesuaian panggung yang dimiliki oleh Teater Koma di GKJ hanyalah 3 hari sebelum hari H pementasan, biasanya penyesuaian tersebut memakan waktu 5 hari.  Walau persiapan hanya sebentar, Teater Koma sanggup menyajikan suatu tontonan berbobot yang sanggup menghadirkan suatu pemahaman dan koneksi kepada penonton lewat permainan, musik, tarian, nyanyian, latar, yang semuanya menjadi kesatuan dan pelengkap satu sama lain.

Permainan yang terjadi di atas panggung berhasil menyampaikan bukan sekedar cerita tapi sekaligus makna daripada cerita tersebut lewat dialog, gestur, hingga detil-detil set ataupun properti yang terlihat turut menyampaikan suatu pesan tersirat, bukan sekedar nangkring jadi pajangan. Memang naskah Semar Gugat adalah naskah lama, akan tetapi, pada kenyataannya, persoalan yang diangkat dalam naskah yang ditulis lebih dari 20 tahun lalu itu, masih berlaku dan sama saja dengan persoalan yang terjadi di Indonesia pada masa kini. Seakan-akan naskah Semar Gugat yang sudah ada sejak lebih dari 20 tahun yang lalu merupakan sebuah buku ‘Almanac’ berisi prediksi sekaligus sindiran bagi situasi dan kondisi Indonesia sekarang ini. Sepulangnya dari menonton pertunjukan Semar Gugat  oleh Teater Koma, penonton dijamin akan pulang dengan pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan baru yang menggugah rasa kemanusiaan dalam diri masing-masing.

Dalam lakon ini juga turut menghadirkan aktor dan aktris Teater Koma lainnya yang juga sudah pernah beberapa kali hadir dalam produksi-produksi sebelumnya seperti Rita Matu Mona, Emmanuel Handojo, Alex Fatahillah, Asmin Timbil, Raheli Dharmawan, Dana Hassan, Bayu Dharmawan Saleh, Andhini Puteri Lestari, Ina Kaka, Angga Yasti, Julung Ramadhan, dan Bangkit Sanjaya.

Pementasan Semar Gugat – Teater Koma masih berlanjut sampai tanggal 10 Maret 2016 di Gedung Kesenian Jakarta. Pentas di Hari Senin sampai dengan Sabtu mulai tepat pukul 19.30 WIB, sedangkan pentas Hari Minggu mulai tepat pukul 13.30 WIB. Info lebih lanjut tentang pemesanan tiket bisa dilihat di website official Teater Koma: www.teaterkoma.org (NA)

 

 

Most Popular

To Top