Korupsi

Dituntut 7 Tahun Bui, Alex Usman Mewek

image

Ayonews, Jakarta
Ada saja tingkah laku koruptor untuk menutupi perbuatan setannya. Kalau nggak sakit,  pasti nangis alias mewek. Seperti terdakwa kasus uninterruptible power supply (UPS), Alex Usman ini.

Matanya terlihat berkaca-kaca dan menangis begitu mendengarkan tuntutan jaksa penjara selama 7 tahun.

Alex mengaku kaget atas tuntutan tersebut. “Saya kaget kenapa muncul Pasal 2 (UU Tipikor) karena sebagai PPK cuma kewenangan saya yang disoalkan di sini. Kalau soal wewenang saya sebagai PPK, seharusnya Pasal 3 (UU Tipikor), begitu, karena saya juga belajar hukum,” ujar Alex di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Kamis (3/3/2016).

Dalam tuntutannya, jaksa menilai Alex terbukti melakukan tindak pidana korupsi seperti yang dimuat dalam dakwaan primer, yakni menyangkut Pasal 2 UU Tipikor.

Alex sendiri mengaku dirinya tidak sengaja melakukan upaya untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain sebagaimana tercantum dalam pasal tersebut.

Dengan mata berkaca-kaca menahan tangis, Alex mencoba menerima tuntutan jaksa. Dia hanya berharap hal yang sama tidak terjadi terhadap PNS lainnya.

Alex pun menyebut kejadian ini sebagai risiko jabatan yang diembannya. “Saya hanya harapkan, mudah-mudahan hal seperti ini tidak terjadi pada yang lain,” ujar Alex terisak.

“Walaupun kita sudah mengikuti aturan dan saya juga tidak mendapatkan keuntungan pribadi, tetapi konsekuensi dan risiko sebagai PPK (pejabat pembuat komitmen) ya seperti ini. Pasti akan dianggap salah meski sudah mengikuti aturan yang berlaku,” kata dia.

Dalam tuntutannya, jaksa menilai Alex terbukti berperan dalam korupsi pengadaan UPS.

Saat pengadaan UPS dilakukan, Alex bertindak sebagai pejabat pembuat komitmen di Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Barat.

Jaksa menilai Alex terbukti memperkaya diri, orang lain, serta korporasi dalam proyek pengadaan UPS untuk 25 sekolah SMA/SMKN pada Suku Dinas Pendidikan Menengah Kota Administrasi Jakarta Barat pada APBD Perubahan Tahun 2014.

Akibatnya, negara diduga mengalami kerugian Rp 81,4 miliar.(***)

Most Popular

To Top