Hukum & Kriminal

29 Anggota Komplotan Pembobol ATM Diringkus Polda Sumsel

image

Ayonews, Palembang
Kelompok penjahat spesialis pembobol anjungan tunai mandiri (ATM) makin pintar dan canggih. Dengan cara mengacak-acak sistem komputer, komplotan ini berhasil meraup jutaan rupiah, tanpa mengurangi saldo.

Namun, ungkapan sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga pas dengan para bandit ini. Usai sukses membobol banyak ATM di wilayah Sumatera Selatan, akhirnya sebanyak 29 anggota sindikat pembobol ATM diringkus Unit I Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel, Kamis (3/3/2016).

Terungkapnya kasus ini bermula ketika seorang pelaku kepergok petugas security Rumah Sakit Umum Moehammad Hoesin Palembang saat beraksi membobol ATM Mandiri sekira pukul 02.00 WIB. Atas informasi itu, polisi pun langsung terjun ke lokasi.

Selain 29 tersangka yang mayoritas warga Telung Selapan Ogan Komering Ilir itu, polisi juga mengamankan barang bukti berupa puluhan kartu ATM, buku tabungan, KTP, ponsel, sim card, uang tunai, dompet, serta tiga unit mobil.

Penangkapan pelaku berawal saat satpam curiga saat rombongan pelaku masuk ke ATM Mandiri rumah sakit. Seorang satpam lalu menyamar jadi keluarga pasien dan pura-pura hendak mengambil uang.

Setelah itulah diketahui kalau rombongan tersebut berniat membobol mesin ATM. Bersama Pomdam yang bertugas di rumah sakit, mereka berhasil meringkus 9 pelaku, kemudian diserahkan ke Polda Sumsel.

Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel, AKBP Kristovo Arianto menjelaskan, setelah dilakukan pengembangan, dalam waktu beberapa jam, pihaknya berhasil meringkus 20 pelaku lainnya.

Namun sejauh ini baru tujuh orang yang ditetapkan sebagai tersangka, sisanya masih berstatus sebagai saksi. Modus pelaku adalah mengacaukan sistem di ATM dengan menekan sejumlah tombol.

Mereka kemudian menarik sejumlah uang tanpa mengurangi saldo. “Berapa jumlah kerugian yang dialami pihak Bank, masih diselidiki,” katanya.

Para tersangka dikenakan pasal 363 tentang pencurian, dengan ancaman kurungan di atas lima tahun penjara. “Kasus ini masih kami kembangkan lagi, guna mengungkap siapa dalang intelektualnya,” tutupnya.(***)

Most Popular

To Top