Nasional

Deponering Kasus Novel, Jaksa Jilat Ludah Sendiri

novel baswedan

Ayonews, Jakarta

Jaksa Agung resmi menutup kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Selasa (22/2) kemarin.

Yuliswan, kuasa hukum tiga korban penganiayaan menyebut Kejaksaan Agung tidak konsisten atau lebih tepatnya menjilat ludah sendiri.

“Jaksa sama saja menjilat ludahnya sendiri. Artinya semua proses sudah dilalui sampai berkas dinyatakan P21 atau lengkap bahkan sudah dilimpahkan ke pengadilan,” ujar Yuliswan Kamis (25/2).

Menurutnya, dengan dinyatakannya berkas lengkap, tidak ada lagi keraguan bagi jaksa untuk melakukan penuntutan. Ia pun heran kenapa tiba-tiba jaksa menyebut berkas ini kurang bukti dan kedaluwarsa.

“Ini kan sekonyong-konyong saja, tanpa ada angin tanpa ada badai mengatakan kurang alat bukti dan kedaluwarsa,” cetusnya.

Yuliswan menjelaskan, terkait kurangnya alat bukti hanyalah pernyataan klasik. Karena, dalam proses penyidikan suatu perkara, sejak awal proses, penyidik selalu berkoordinasi dengan jaksa dalam hal kelengkapan berkas perkara maupun alat dan barang bukti.

“Kan kalau belum lengkap dikembalikan lagi untuk dilengkapi. Pada tahap seperti ini jaksa memberi petunjuk apa-apa saja yang kurang sehingga harus dilengkapi,” paparnya.

Dia melanjutkan, terkait kedaluwarsa, ketika suatu berkas sudah dilimpahkan ke pengadilan dan hakim sudah menetapkan jadwal sidang serta proses penuntutan sudah berjalan maka tidak ada yang namanya kedaluwarsa.

“Kalau mereka meragukan dan menganggap kedaluwarsa jalankan dulu persidangannya, biar hakim yang memutus jika memang dianggap kedaluwarsa,” imbuhnya.

“Ada waktu untuk kuasa hukum terdakwa bisa melakukan eksepsi misal karena kedaluwarsa. Kalau majelis menganggap kedaluwarsa nanti majelis kabulkan. Tetapi kalau tidak ya lanjut tahap selanjutnya, yaitu penuntutan,” tambah Yuliswan. (***)

Most Popular

To Top