Hukum & Kriminal

Menipu di Indonesia, Korbannya di China, 12 Sindikat Kejahatan Online Dibekuk Polda Metro

image

Ayonews, Jakarta
Indonesia dijadikan basis beroperasinya sindikat penipuan internasional yang melibatkan WNA China. Mereka memperdayai korbannya di luar negeri dan meraup untung dari Indonesia.

Berkat kerjasama Interpol, 12 pelaku yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, ditangkap tim Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.

Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes (Pol) Mujiyono mengatakan, pihaknya menangkap para tersangka setelah mendapatkan informasi dari Interpol terkait adanya pelaku penipuan via internet yang disinyalir berada di Indonesia.

Setelah berkoordinasi dengan Kepolisian China, Interpol, dan tim Subdit Cyber Crime, pihaknya mendapatkan informasi bahwa IP address para pelaku berasal dari Indonesia.

“Setelah itu kami membentuk tim. Tak sampai seminggu kita bisa menyelidiki ISP (Internet Service Provider) yang digunakan  untuk memasang peralatan dan tempat-tempat mana saja yang digunakan sebagai tempat tinggal,” jelas Mujiyono dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (1/2/2016).

Selama 6 hari penyelidikan, polisi kemudian menangkap 12 pelaku yang terdiri dari 9 WN China dan 3 orang WNI yang berada di Jakarta dan Surabaya.

“12 Pelaku itu punya peran masing-masing, seperti operator yang menghubungi para korban, fasilitator, penghubung hingga mastermind,” ungkap Mujiono.

Misalnya, terang Mujiono, tersangka HK alias C,  WNI keturunan China bertugas  menerima uang operasional dari master mind di China, menyewakan ruko dan rumah, membayarkan uang untuk membangun IT, mentransfer uang ke rekening pelaku lain untuk operasional, menyewa internet di ISP-ada 20 ISP-dan membuatkan KTP palsu.

Sementara tersangka LCC alias R (WN China) merupakan penghubung antara pelaku di China dan di Hong Kong dengan yang di Indonesia serta menerima yang operasional dari master mind di Thaiwan.

Tersangka IM alias F (WNI), berperan memasang tower, mengkonfigurasi IP/internet/IT sehingga susah dilacak oleh polisi dari China dan Indonesia serta melakukan pengecekan koneksi.

Tersangka lainnya, W alias E (WNI) merupakan pengantar-jemput pelaku dari airport ke tempat hiburan, menyuplai logistik serta mengantarkan peralatan fasilitas.

Sementara 8 orang WN China lainnya yakni CMC, STS, KWH, SSK, CYH, CHT, WSC dan SWC bekerja sebagai operasional yang menghubungi para korban.

Mujiyono memaparkan, modus operandi yang dilakukan sindikat ini adalah dengan menggunakan VoIP (Voice over Internet Protocol) dengan menggunakan infrastruktur IT di Indonesia. Sindikat ini juga menyewa bandwidth jaringan internet internasional dan domestik.

“Para tersangka menyewa beberapa ruko untuk meletakkan perangkat IT berupa tower, antena, server, router, switch dan modem dan mempekerjakan sejumlah WN China di Surabaya untuk melakukan penipuan dengan sasaran orang China di negara asalnya,” paparnya.

Para pelaku yang menjadi operator kemudian menghubungi korban melalui pesawat telepon PSTN yang sudah tersambung ke internet tersebut, dengan mengaku sebagai aparat kepolisian setempat.

“Bila berhasil, korban mengirimkan sejumlah uang yang diminta oleh para pelaku kepada jaringan yang berada di China,” ujarnya.

Modus operandi kejahatan mereka,  lanjut Mujiono, para pelaku menelepon korban, mengabarkan bahwa korban memenangkan sejumlah uang dari sebuah undian.

“Tapi untuk mendapat hadiah undian tersebut, korban harus membayar uang tebusan sebesar 1,3 juta RMB atau senilai Rp 2,6 miliar,” terangnya

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasla 28 ayat (1) jo Pasal 34 UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE dan atau Pasal 378 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dan atau Pasal 3,4,5 UU No 8 Tahun 2010 tentang TPPU.

Dari para tersangka, polisi menyita sejumlah barang bukti seperti 52 unit pesawat telepon PSTN, 11 unit kalkulator, 6 unit handphone, 8 unit laptop, 1 buku rekening, 4 kartu ATM Paspor BCA, 4 KTP dan SIM pelaku WNI.(***)

Most Popular

To Top