Hukum & Kriminal

Dituduh Rekayasa Kasus, Polisi Tantang Pengacara Jessica Perang Strategi Penyidikan

image

Ayonews, Jakarta
Tersangka pembunuhan Wayan Mirna Salihin (27) yang tewas usai mibun kopi vietnam, Jessica Kumala Wongso (27), bersikukuh bahwa dirinya bukan pelaki yang nenyebabkan kematian sahabatnya itu.

Bahkan,  melalui pengacaranya, Yudi Wibowo Sukinto, Jessica mengatakan bahwa dirinya dipaksa seperti apa pun,  bahkan sampai dipotong lehernya pun tak akan pernah mengakui perbuatannya.

Dalam beberapa kesempatan, Yudi pun menantang polisi untuk menunjukkan siapa saksi yang mengetahui bahwa Jessica yang menaruh racun di kopi Mirna itu.

Sebelumnya pihak Jessica tetap membantah tuduhan pembunuhan itu dan meminta polisi membuka bukti yang dimiliki, terutama CCTV.

“Itu kan reka-rekaan. Bukti-buktinya rekaan semua. Saya ingin tahu siapa orang yang melihat, mendengar, dan mengalami Jessica menaruh racun. Itu saja yang perlu diungkap,” kata pengacara Jessica, Yudi Wibowo Sukinto usai mendampingi Jessica di Mapolda metro Jaya, Jakarta, Sabtu (30/1/2016) malam.

Namun demikian, polisi juga tetap berpendapat bahwa Jessica adalah pelaku yang menyebabkan kematian Wayan Mirna. Meski tidak mempublikasikan alat bukti dan saksi yang menguatkan Jessica pelakunya, polisi punya argumen tersendiri. Bahkan polisi siap berperang strategi dengan pengacara Jessica.

“Nggak masalah, pengacara silakan saja, itu strategi pengacara, strategi kami ya strategi kami. Silakan kita berperang strategi penyidikan, artinya tetap dalam koridor,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Mohammad Iqbal kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (1/21/2016).

Iqbal mengatakan, penyidik Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya telah memiliki bukti-bukti atas penetapan Jessica sebagai tersangka di kasus ini.

“Kan sudah sering disampaikan, minimal dua alat bukti. Tetapi mohon maaf, tidak bisa kita ungkapkan ke publik,” tambah Iqbal.

Terkait protes pengacara atas penangkapan Jessica, Iqbal menyatakan bahwa hal itu sudah sesuai prosedur.

“Silahkan saja pengacara berpersepsi begitu, tapi tidak, kita sudah sangat menentukan sudah sesuai SOP. Ada polwannya, ada surat perintah tugas, ada surat perintah penangkapan,” tuturnya.(***)

Most Popular

To Top