Hukum & Kriminal

Soal Teror Bom, Tak Melulu Intelijen Salah, Coba Tanya Pengguna Infonya

AppleMark

Teror Sarinah

Ayonews, Jakarta
Memang, serangan teror dan bom Thamrin Sarinah tidak sedahsyat serangan bom Paris, bom Istanbul, bom di beberapa Negara lainnya yang selang beberapa hari turut jadi sasaran aksi teror. Bahkan tidak seberapanya ketimbang perang di Irak dan Suriah.
Setiap terjadi serangan teroris, di Negara mana pun, yang mendapat kritikan utama adalah pihak intelijen. Lembaga intelijen di Negara yang mendapat serangan dianggap tidak becus dalam bekerja.
Namun pengamat intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati menilai tak seharusnya pihak intelijen disalahkan dalam suatu peristiwa gangguan keamanan seperti serangan teroris. Menurut perempuan yang akrab disapa Nuning itu pihak intelijen hanya memiliki tugas untuk pengumpulan bahan dan keterangan atau pulbaket terkait adanya potensi gangguan keamanan.
“Dalam hal ini intelijen kan hanya ada sebagai giat pulbaket saja,” ujar Nuning.
Karena pihak intelijen hanya bertugas mengumpulkan data-data terkait adanya potensi gangguan keamanan, maka pihak intelijen tak bisa melakukan eksekusi terhadap laporan tersebut.
“Media cenderung nyalahin intel saja deh, intelijen enggak bisa eksekusi, yang eksekusi itu ya pengguna infonya dalam hal ini pihak keamanan, yakni polisi,” jelas Nuning.
Nuning menambahkan pihak keamanan seperti kepolisian, ataupun tentara serta pemerintah dalam hal ini lebih berperan penting dalam mengeksekusi laporan intelijen tersebut. Sehingga antisipasi terhadap aksi-aksi terorisme dapat dilakukan berdasarkan laporan intelijen itu.
“Jadi kalau ada kejadian tak bisa hanya salahkan intel, kita juga harus lihat bagaimana upaya end-user intelnya apakah langsung eksekusikan laporan intel tersebut atau tidak,” pungkas Nuning.(***)

Most Popular

To Top