Hukum & Kriminal

Tipu Pengusaha Mineral Ratusan Juta, Calo Bea Cukai Ditangkap Polisi

kontainer

Ayonews, Jakarta
Setelah bertahun-tahun praktik percaloan dan mafia ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok aman-aman saja, kini aksi mereka tak lagi bebas. Pasalnya aparat kepolisian mulai membongkar komplotan yang banyak merugikan para pengusaha itu. Salah satu yang dibonghkart polisi adalah kelompok mafia Asep Hidayat.
Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Hengki Haryadi mengungkapkan, pihaknya berhasil menangkap Asep setelah mendapatkan laporan dari pengusaha batu mineral di Kalimantan.

“Awalnya korban ini hendak membatalkan pengurusan ekspor karena ada dokumen yang kurang lengkap. Tapi kemudian bertemu dengan tersangka dan dijanjikan akan dibantu untuk membereskan,” jelas Hengki, Kamis (21/1).

Dalam aksinya, lanjut Hengki, tersangka sudah melakukan aksinya sejak 4 tahun lalu. “Dalam pengakuannya 4 pengusaha yang menjadi korbannya. Uang hasil kejahatan tersangka digunakan untuk berfoya-foya,” katanya.

Selama 2015 sampai awal 2016 ini, Polres Tanjung Priok telah berhasil mengungkap praktik mafia di Pelabuhan Tanjung Priok seperti contoh kasus dwell time, premanisme yang melibatkan oknum Ketua salah satu ormas, hingga upaya penyelundupan barang secara ilegal.

sementara itu Kasat Reskrim Polrea Pelabuhan Tanjung Priok Kompol Victor Inkiriwang mengungkapkan, modus operandi tersangka adalah mengaku sebagai calo yang memiliki kedekatan dengan pejabat Bea dan Cukai. Namun, dalam pengerjaan dokumen tersebut, tersangka meminta uang jasa sebesar Rp 190 juta.

Pada 9 November 2015, korban bertemu dengan tersangka yang menyanggupi pekerjaan Pengurusan Pembatalan Dokumen Eksport. Saat itu, tersangka meminta uang sebesar Rp 80 juta.

“Alasannya sebagai biaya koordinasi ke pihak Bea dan Cukai dan uang tersebut diserahkan korban di rumah tersangka,” ujar Victor.
Tak hanya sampai di situ, lanjut Viktor, tersangka kembali meminta uang sebesar Rp 20 juta, dengan alasan untuk menggerakkan pihak bea cukai agar membuka segel merah.

31 Desember 2015, tersangka memperlihatkan SPKBE kepada korban. Saat itu, tersangka juga meminta kembali uang sebesar Rp 500 juta. “Alasannya untuk meminta tanda tangan dan stempel dari Pihak Bea dan Cukai, namun korban hanya menyanggupi Rp 90 juta,” lanjutnya.

Hingga 1 Januari 2016 kontainer yang dimaksudkan belum keluar. Korban kemudian mengecek ke pihak bea cukai dan barulah diketahui bahwa SPKBE yang diserahkan tersangka, ternyata palsu. Tak terima merasa ditipu, korban melapor ke polisi. Polisi pun bergerak menangkap tersangka Asep. Dari tangan tersangka, polisi menyita uang tunai Rp 180 juta hasil kejahatan,surat SPKBE palsu, 2 lembar kwitansi asli sebagai bukti penyerahan uang dari korban ke tersangka.

“Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan atau Pasal 372 KUHP tentang penggelapan,” tandas Viktor.(Ari).

Most Popular

To Top