Politik

Wacanakan Amnesti Bagi Din Minimi, Langkah Bang Yos Patut Diapresiasi

 

unnamed

Ayonews, Jakarta

Wacana pemberian amnesti oleh Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) kepada kelompok Din Minimi di Aceh yang menyerahkan diri, beberapa waktu lalu memang mendapat kritikan dari berbagai pihak. Salah satunya dari Kapolri Jenderal Badrodin Haiti.

Kontroversi seperti ini wajar-wajar saja. Namun, bukan berarti Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Sutiyoso yang patut disalahkan atas pengampunan terhadap kelompok Din Minimi.

“Dalam hal ini Kapolri benar bahwa memang Kepala BIN tidak bisa memberikan amnesti, karena wewenang itu ada di Presiden. Tetapi Bang Yos juga tidak bisa disalahkan, kalau dalam nego-nego itu disinggung soal amnesti,” kata pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo.

Menurut Karyono, tugas Bang Yos saat ini adalah meyakinkan Presiden bahwa kelompok Din Minimi ini layak untuk diberikan amnesti.

Bang Yos dan timnya, lanjut Karyono, harus memberikan data-data akurat bahwa kelompok Din Minimi ini sudah bertobat, sudah mau kembali ke jalan yang benar, tidak mengulangi perbuatannya dan akan mengajak serta anggota lainnya yang masih di hutan.

“Saya kira Bang Yos memiliki kapasitas untuk melakukan itu,” tegasnya.

Mantan aktivis 98 ini menilai, langkah Kepala BIN Sutiyoso menemui kelompok Din Minimi –yang dianggap kelompok separatis Aceh– kemudian berhasil membujuk untuk menyerahkan diri, menunjukkan adanya perubahan paradigma BIN di bawah kendali Sutiyoso, dalam menyelesaikan masalah dengan kelompok separatis.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, terang Karyono, langkah Sutiyoso ini patut diapresiasi.

Dia menilai, Bang Yos dan BIN ingin mengubah paradigma yang selama ini digunakan dalam menyelesaikan konflik dari security approach atau pendekatan keamanan yang represif menjadi pendekatan dialogis dengan merangkul kelompok atau tokoh yang dianggap memiliki konflik dengan pemerintah.

Selain meniadakan jumlah korban jiwa, menurut Karyono, cara ini juga dianggap lebih manusiawi dan beradab.

“Berbeda halnya dengan pendekatan represif yang akan menimbulkan korban jiwa dan balas dendam berkepanjangan. Siapa tahu dengan pendekatan kemanusiaan seperti ini akan menyentuh anggota lain untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar,” sambungnya.

Jika pendekatan ini berhasil menyelesaikan masalah, terangnya, penyelesaian model ini dapat diterapkan untuk menyelesaikan konflik separatis di Papua, atau bahkan dengan kelompok radikal atau teroris sekalipun.

Namun demikian, Karyono, menyarankan Bang Yos dan BIN, sebelum memutuskan untuk melakukan pendekatan dialogis, BIN harus memiliki catatan-catatan dan data-data yang akurat mengenai gerakan kelompok ini.

Karyono mengingatkan, BIN harus lebih berhati-hati lagi. Jangan sampai upaya dialogis justru akan dimanfaatkan oleh kelompok radikal, separatis dan teroris yang mengancam keamanan negara.

“Seakan-akan mereka melihat bahwa BIN ini lemah. Ini bisa berbahaya. Sebagai alat negara, BIN tidak boleh lemah dan lengah. Ketika BIN lemah dan lengah, ini akan menjadi ancaman bagi keamanan negara,” pungkasnya.(***)

Most Popular

To Top