Hukum & Kriminal

Kisah Tobat Sambal Ahmad Musadeq, dari Mengaku Nabi, Bikin NII Hingga Gafatar

Ahmad-Musadeq-dan-Gafatar

Ayonews, Jakarta
Gafatar menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Ribuan orang kepincut dengan lembaga yang mengajarkan aliran penggabungan beberapa agama. Ironisnya banyak keluarga yang mengaku kehilangan anggota keluarganya dan belakangan baru diketahui telah bergabung dengan kelompok yang dipimpin Ahmad Musadeq yang pernah mendirikan Negara Islam Indonesia.

Gafatar merupakan metamorphosis dari Al Qiyadah Al Islamiah. Gerakan ini tak bertahan lama. Karena dianggap ilegal, organisasi ini dibubarkan oleh polisi. Ahmad Musadeq dijerat dengan tuduhan penistaan agama dan divonis 2,5 tahun penjara.

Setelah keluar dari penjara, Musadeq meninggalkan Al Qiyadah Al Islamiyah dan mendirikan perkumpulan baru dengan nama Komar (Komunitas Millah Abraham). Komunitas itu menggabungkan tiga konsep ajaran agama menjadi satu yaitu Islam, Nasrani dan Yahudi.

Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Utang Ranu Wijaya yang merupakan anggota Tim Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) mengungkapkan, dari data yang diperoleh, kelompok Ahmad Musadeq ini merupakan sempalan dari NII.

“Ketika itu dia menyatakan diri sebagai nabi dan mengatakan bermimpi dan yang menjadi rujukan pertama adalah rujukan Al Quran. Ya jelas itu Islam, itu dia bisa dikatakan kafir karena mengaku sebagai nabi dan mengatakan tidak ada ibadah,” kata Utang.

Pada tahun 2007 lalu, Utang menyebut MUI pernah menobatkan Musadeq dan membimbing ke jalan yang benar. Ternyata, hal itu hanya sebagai kedok untuk meringankan hukuman.

“Pada saat itu sudah ada semacam keinginan yang dia katakan untuk dicabut katanya sebagai nabi, tapi kemudian saya kira itu hanya srategi dia supaya lepas dari jeratan hukum yang lebih berat. Kalau dia terus mengatakan saya nabi tentu hukumannya lebih berat. Kemudian saat dia tidak lagi mengatakan saya nabi proses hukum tetap berlanjut dan masuk penjara. Kemudian penyakitnya berlanjut lagi, apa yang sudah dinyatakan sebelumnya,” kata Utang.

Sementara itu Direktur Sosial Budaya Baintelkam Polri Brigjen (Pol) Bambang Sucahyo menyebut Ahmad Musadeq bisa kembali dipidana. Ia bisa terkena pasal penistaan agama.

“Kita lihat dari MUI, flashback tahun 2007, dia kan pernah dihukum pidana penistaan agama,” kata Brigjen (Pol) Bambang Sucahyo yang juga sebagai anggota Tim Pakem Pusat.

Menurut Bambang, Mabes Polri bisa melakukan penyelidikan dan penyidikan berdasarkan data kejadian di masyarakat. Di mana banyak warga yang merasa keluarganya hilang dan ikut Gafatar.

“Ya cukup berdasarkan kejadian di masyarakat, yang hilang, dsb, Fatwa MUI yang menyatakan sesat dan melakukan penodaan agama. Jadi tidak perlu ada laporan,” kata Bambang.
Musadeq pun terancam hukuman yang lebih berat daripada hukuman sebelumnya. Ia bisa dijerat dengan pasal dan undang-undang yang sama seperti dulu tentang penistaan agama.

“Materinya bisa jadi sama dengan pidana yang sebelumnya dia lakukan. Kan dalam BAP kita pertanyakan, pernah dihukum gak? Data tidak pernah bohong dong soal pidana yang dia lakukan. Itu otomatis bisa memperberat hukuman,” papar Bambang.(***)

Most Popular

To Top